Rabu, 20 Mei 2020

Rare Angon : Pemain Layang-layang Dulu dan Kini

    Berbicara masalah Rare Angon  kita tidak bisa terlepas dari seorang tokoh anak pengembala. Rare Angon kesehariannya sebagai seorang pengembala, binatang yang dikembalanya tidak lain adalah sapi. Ciri tersebut identik dengan nanya yakni Rare yang artinya anak kecil atau anak muda dan angon yang artinya pengembala. Rare Angon sebagai seorang pengembala tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan di sawah. Rare Angon kerapkali dalam mengembala sapinya membawa pecut untuk mengarahkan sapinya, sabit sebagai sarana bercocok tanam di sawah, dengan memakai capail  yaitu topi anyaman tradisional untuk melindungi dirinya dari terik matahari. Sebagai sarana hiburan di tengah kepenatan aktivitas di sawah, rare angon kerap kali membawa seluring yang di mainkan dengan menghasilkan suara yang merdu. Selain seluring, layang-layang merupakan sarana pokok rare angon untuk menghibur diri. Ketika layangannya sudah naik mengangkasa, maka sambil memainkan seluring untuk mengisi kebosanannya Rare Angon membuat pindekan atau baling-baling dari batang pohon waru. Putaran baling-baling inilah ayang akan mengantarkan suara merdu dan indah. Untuk menambah keindahan suasana di sawah Rare Angon menaikkan sebuah bambu besar yang telah dilubangi sesuai dengan larasnya masing-masing yang disebut dengan sunari. Tiupan angin semilir akan mengetarkan resonansi gelombang pada bambu sehingga tercipta frekuensi suara yang selaras dengan suara alam. Semua itu menambah kegembiraan dan semangat Rare Angon beserta seluruh masyarakat yang menggarap sawah untuk dapat menghasilkan padi yang unggul dengan panen yang berlimpah. Pengolahan padi tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan pola penggarapan tetapi juga melakukan ritual sebagai bentuk rasa syukur terdap karunia tuhan.

    Sering timbul pertanyaan di benak kita apakah Rare Angon itu tokoh atau sebuah konseptual? Secara makna Rare Angon adalah tokoh yang melakukan aktivitas agraris dengan melakukan pemuliaan terhadap padi sebagai ciptaan tuhan. Secara mitologi, tokoh Rare Angon menurut Lontar Rare Angon merupakan putra Dewa Siwa yang di tugaskan untuk mengajarkan manusia memuliakan padi dan mengajarkan manuasia untuk menam padi. Rare Angon sangat terkenal karena wilayah Bali khususnya dan Nusantara pada umumnya tidak dapat dipisahkan dari budaya agraris. Kehidupan agraris mulai dikenal seluruh dunia mulai ketika zaman bercocok tanam, setelah manusia purba mengakhir pola kehidupan berburu dan meramu yang di artikan dengan masa bercocok tanam. Masa ini dilanjutkan dengan masa perundagian dengan membuat alat-alat dan pernak pernik sederhana. Mulailah mereka mengenal sistem pemujaan sebagai sistem religi yang asangat sederhana. Pola unsur budaya yang universal tersebut hingga kini terwarisi dan berkembang dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti halnya secara kontekstual dulu, masyarakat kita menggantungkan mata pencaharian pokoknya pada sektor agraris. Pola mata pencaharian inilah yang turut serta mempengaruhi pola pikir religi masyarakat. Khususnya di Bali setiap upacara pasti mengandung unsur agraris, karena konstruksi upacara tersebut dibangun atas pemahaman agraris. Terlebih ketika upacara besar secara eksplisit di dalam lontar  rare angon disebutkan kita harus membangun sebuah daksina  yang dilengkapi dengan : capil, pecut dan layang-layang sebagai simbolisasi rare angon, sekaligus di minta untuk menaikan sunari dan pindekan.

    Sistem pengetahuan pun bergerak seiring dengan perlembangan budaya agraris, seperti yang terdokumentasikan dalam lontar darma pamaculan, Lontar Indik Magaga Sawah, Lontar Sri Nini, Lontar Usada We, dan lain sebagainya. Keseluruhan isi lontar itu mengajarkan kita bagaimana kita harus memuliakan padi dan mengolah padi yang baik termasuk di dalamnya menjaga ekosistem dan rantai makanan yang ada. Keseluruahan upaya itu dilakukan tidak lain untuk menghasilkan hasil yang berlimpah dan menyampaikan rasa syukur setelah diperolehnya hasil. Dahulu sistem pengolahan dilakukan dengan riang gembira sebagaimana konsep rare angon karena salah satu hiburan untuk anak-anak ada di sawah adalah layangan. Pembelajaran dahulu mengambil konsep maplayan sambil melajah dimana mereka akan bermain sambil mereka melakukan edukasi. Ketika anak-anak akan dilatih menanam padi mereka harus mengetahui sistem tanam dan jarak tanam, letak permainannya ketika mereka bisa bermain lumpur menjadi kegembiraan anak-anak di zamannya. Jika dikorelasikan tak ubahnya mereka mendapatkan permainan baru yang mengasikan di gawainya. Terlebih ketika anak-anak suntuk mereka akan di ajarkan menaikkan layang-layang. Apa sesunguhnya layang-layang itu? layang-layang berasal dari kata layang yang mengalami pengulangan, yang artinya pengolahan lembaran, sedangkan kata layangan dapat di artikan sebagai jiwa atau semangat, dan anglayang dapat diartikan terbang atau melayang di udara.  Sehingga secara umum dapat di artikan layangan atau layang-layang merupakan pengolahan lembaran yang akan di terbangkan untuk dapat memimbukan jiwa yang gembira dan bersemangat. Sehingga tidak salah masyarakat dulu menjadikan layang-layang sebagai sarana untuk menghibur diri untuk membangkitan semangat kerja dan menghilangkan jiwa dari stres akibat beban kerja.